Tersesat di Indonesia Millennial Connect Batch 2.0

"Usia hanya sebuah angka, perjalanan hanya sebuah sejarah, pengalaman sebagai pijakan pendewasaan."

(Soesandi)

Instagram : @faisalsusandi
Sumber : Instagram @faisalsusandi

Teruntuk sang pengejar impian di Indonesia Millennial Connect Batch 2.0, terutama kelompok 7. Terimakasih atas kerjasamanya.

Berawal kisah pada tanggal 25 Agustus 2021 kuluangkan waktu senggangku dengan mencoba mengetik kata "DAFTAR" dikolom pencarian Google Chrome dan munculah banyak hasil pencarian. Dari keseluruhan hasil ketertarikanku pada dunia kerelawanan maka ku coba mendaftar di laman website kerelawanan dari Indonesia Mengajar sampai Sekolah Relawan. Dari keseluruhan hanya Indonesia Millennial Connect yang menerima pendaftaranku. Sebenarnya aku berharap bisa lolos di Indonesia Mengajar karena sudah hampir 6 kali mendaftar aku selalu tidak lolos, malang kan. Tapi kali ini aku lolos di Indonesia Millennial Connect, wuezzzzahhh senang dong, akhirnya lolos. Seluruh bahan yang akan digunakan aku download Dan tak lupa ku tulis schedule tersebut di mading kamarku.

Yeah, akhirnya tiba. Pesan masuk dari panitia penyelenggara mengenai tatib open ceremony Indonesia Millennial Connect Batch 2.0 yang dilakukan secara daring. Awalnya sih nggak curiga, pikiranku ah pasti ada yang sama sepertiku. Lalu akhirnya sampai pada hari H open ceremony sekaligus pembagian kelompok dan mentornya. Aku mulai panik, kok alurnya seperti ini.

Jujur sejujur-jujurnya ini kali pertama aku ngikutin agenda kerelawanan daring dan biasanya tuh aku teriak-teriak dijalan, dipukulin polisi, mendekam di jeruji besi kalo lagi apes, kejar-kejaran sama polisi. Kalo ikut kerelawanan itu selalu aksi langsung atau tanggap cepat darurat.

Kebingunganku pun dimulai pada saat pembagian kelompok dan say hello ke teman-teman anggota kelompok. Nah pas ada pertemuan kecil yang dilakukan di aplikasi Zoom oleh panitia penyelenggara, seluruh peserta on camera dan pada saat itu aku sih santai aja on camera juga, santaii, eh.. eh... Eh.... Eh.... Kok ada yang aneh, muka aku aja paling tua coy pikirku, ah palingan bawaan kamera πŸ˜‚. Pas ada sesi tanya jawab dengan lantang Dan berani dong aku "Raise ✋", ah masa jago dilapangan kalah di daring. Berani dong. Setelah itu moderator pilih salah satu dari peserta yang mengangkat tangan.

Dan betapa terkaget sekaligus terheran-heran saya mendengar penjawab baru berumur 19 tahun, yozzzzeeee "Camera tolong aku, tolong, tolong, aku dimana? kok GELAP😭

Sangat freaky kawan-kawan, huffttt... Tetap positif Jaga semangat. Eh, akhirnya aku dapat giliran, eh tapi kok aku gemetaran sekaligus gugup, aku malahan berpikiran kalo aku paling tua, GUGUP.. GUGUP.. DAN GUGUP. Ya Sudahlah.
Aku lanjutin terus ya kan, eh akhirnya selesai juga kegugupan yang haqiqi ini.

Berselang ada Group Invitation dari panitia penyelenggara yang didalamnya berisikan anggota kelompok 7. Keadaan ku kali itu masih santai, lalu sebuah pesan yang mengindikasian pembentukan struktur kelompok 7 yang diberikan List perlu di isi sesuai minat dan keinginan.

Kemudian dengan PD-nya aku menuliskan namaku di list Ketua/Chief of Project Manager, yoollloooo bangga banget. Nah kan aku ketua nih, aku nentuin kapan pertemuan say hello dan pembicaraan projek sekalian pahami job desknya masing-masing.

Serious banget, aku gak tahu menahu soal CPM (Chief of Project Manager), nah aku googling kan, welah dalah busssyyyeettt ngeri banget. Aku mulai mumet kan ya tapi belum tahap kronis.

Nah, tahapan kronisnya dimulai saat, pertemuan seluruh anggota kelompok dan mentor kelompok. Eh busyyett perkenalan satu demi satu, dari keseluruhan kok umurnya 19 sampai 21 tahun ya, yozzzzeeee kronis mulai nih. Tiba giliran aku perkenalan, (yah maafkan ya kawan-kawan kemaren tuh aku bohong banget), aku perkenalin diri aku masih kuliah semester akhir (tapi nyatanya aku udah lulus dari tahun 2019 lalu, maapin yak.) biar selaras aja sama kalian, gitu juga umur aku CP jadi 23 (nyatanya 25 tahun
) ahahaha aku seumuran sama Founder Indonesia Millennial Connect, kak Iqbal.
Sampah banget kan.

Dalam hati aku bilang, "bohong terus kau ya paisal".

Banyak banget bo'ongnya, nah yang gak bo'ong cuma cerita pengalaman di lapangan itu really real.
Nah, agenda pun mulai banyak ya kan, ada kelas, ada pertemuan daring, ah busssyyyeettt pasukan mata merah bukan karena gas air mata. Jalanin aja deh.
Si paling tua diantara lainnya mulai menampakkan tajinya. Tapi perlahan aku mulai kendor ngeliat partisipasi anggota kelompok beda banget ama offline, di daring susah banget ngaturnya. Capek jadi korban janji πŸ˜•.
Nah sampai lah, di ujung kisah, akupun perlahan menghilang dan disibukan dengan kelas TOEFL yang padat hingga rapat perubahan skema pembelajaran di kursusan, ribettt terus waktuuu puaaaannnnnjaaaang banget, aku memberikan wewenang ke Co-CPM terus dibantu sama Dek Brendys, salut banget aku sama ini wanita, idenya futuristik serious.
Ada moderator yang suaranya uwuw membuat nyaman Dek Dwira, Si sekertaris TOPBEGETEH Dek Nabila, so all of u thanks, Co-CPM Dek Haura juga thanks bangeeutt. So, aku mulai tak menunjukan sesuatu yang berarti hingga project dijalankan (maaf banget, kalian bakalan keserempet pesawat kalo di posisi aku, baru mau nge-zoom eh ada panggilan lagi, rapat pertemuan cuaaapppekkk tennan berargumen terus menerus. Untuk kerjasama mentor terima kasih atas bimbingan projectnya "GENDER EQUALITY" terimakasih banget.

Terimakasih Dwira, Nabila, Haura, Brendys, serious kalo ada project tangguh aku pasti bakalan nyari kalian. Thanks banget sudah Bantu si tua bangka ini 😭.

Tapi serious kalian, ngasih pengalaman banget ke aku, "Ngontrol kaum muda memanglah sulit, tapi alangkah ringan dan cerdasnya jika memberikan kesempatan buat mereka berkembang sendiri dan kamu hanya mengkoordinasikan saja dengan rules-nya." (Paisal, 2022).

Paham!!!

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Jangan lupa follow IG aku @bg.isall_ πŸ‘Œ

Komentar

Postingan Populer