Masih Terfira-fira

 

"Berhentilah berharap dan melakukan apa yang tak bisa kau gapai, kumohon mengertilah itu bukan kapasitasmu."


Pagi ini aku terbangun dengan banyak lelah juga pikiran negatif di benakku setelah hampir satu malam penuh aku menghabiskan waktuku dengan scroll beranda aplikasi TikTok di Smartphone-ku. Sebenarnya aku tahu kegiatan itu tidak produktif dan hanya menguras tenaga. Salah satu konten kreator wanita sering kali ku tonton di aplikasi tersebut, sebut saja Trend Terfira-fira (sadfira) cukup membuat satnite ku upstream.

Akhirnya, aku terlelap dengan semua khayalan dan impianku hingga aku tak menyadari satu hal yakni usia. Menilik dari sejarah panjang di bulan September nanti aku akan berusia genap 26 tahun. Namun, aku belum juga memperlihatkan identitasku, belum mengubah caraku, masih stagnan dengan keplinplanan ku, masih ingin hidup seperti oranglain, masih bergerak dibawah bayang-bayang. Hal-hal itu terus menggerogoti pribadiku hingga kini.

Sebuah buku menyadarkan ku atas semua itu, "Sebuah nafsu akan tetap terus bergerilya hingga dirimu hanyut tanpa arah". Kalimat tersebut sangat identik denganku, aku hanya mengikuti nafsu tanpa berkonsultasi dengan Tuhan. Lalu pada hari hari lainnya, aku masih terjebak dengan pikiranku.

Ingin sekali aku mengubah diriku, jujur saja aku kurang percaya diri pada diriku sendiri lalu aku membuka mata lebar lebar akan teori korporasi untuk menghidupi diriku dalam duniaku yang fana.

Apakah itu akan terus berlanjut?
Ku harap tolong berubahlah diriku.

Di lain sisi, ada sebuah rencana yang hanya terus menjadi rencana tanpa pernah aku bergerak lebih keras. Aku hanya meratapi tanpa ada eksekusi. Jujur saja aku belum tahu betul inti kehidupan itu, aku bergerak dibalik kegelapan hingga menemukan sebuah ide entah dari mana "aku harus punya website" begitulah yang terekam dibenakku. Selepas dari perjalanan hitam putihku Dan pandangan skeptis orangtuaku membuat aku kian mengalami kesulitan akan kontrol diri ini. Sementara orangtua ingin hidupku layaknya oranglain yang bekerja di peekantoran sedangkan aku adalah orang yang sangat sulit ditempatkan di area perkantoran. Kondisi psikis ku juga mempengaruhi, seakan kehidupan bebas dan punya bisnis sampingan tanpa terdeteksi oleh oranglain membuat aku merasa bahagia. Hanya half itu yang membuat aku bahagia.

Ingin jadi ini itu

Semakin kesini aku semakin ingin menjadi ini Dan itu, mau menjadi gamer, streamer, freelancer, designer, YouTuber, Web developer, animator yang akan sangat sulit aku wujudkan. Semua itu belum dapat terjadi karena aku adalah pecundang berkeinginan lebih tapi tanpa usaha lebih, terdengar bullshit gak sih. Hal itu menggerogoti perawakanku, aku jadi ogah merawat diri, aku menghancurkan pandangan. Terlepas akan semua itu aku adalah orang yang sulit dan menolak akan sosial yang lebih. Namun aku terus mencoba hidup tanpa semua itu, aku ingin berkelana dengan diriku sendiri dengan harapanku serta mauku. Hingga pada suatu saat jika Allah inginkan aku berkeluarga atau inginkan aku mengukir banyak history maka perjalananku akan terus berlanjut.

Ini hanya harapan yang selelu membumbung tinggi hingga sang pelangi menghiasinya.

Komentar

Postingan Populer