Sebuah Rasa

 


Hari akan berakhir kala itu, sebuah pesan singkat mengoyak konsentrasi desainku. Seakan merasa tak mungkin ada yang mengetahui langkahku hingga kemari (Australia). Sayangnya sebuah pesan panjang dari media chat Whatsapp membuyarkan dugaanku.


Teruntuk Kamu,

Aku sering bertanya kenapa langit itu jauh?

Aku pernah bertanya kenapa hujan itu jatuh?

Bahkan aku pernah bertanya kenapa bulan selalu terdiam?

Aku butuh jawabannya hari ini?


Begitu penggalan tulisan di baris pertama pesannya. Seakan aku adalah anak yang lupa ingatan dengan keras berusaha mengingat kembali apa yang kulakukan dulu. Aku gugup dengan pertanyaan yang ditulisnya. Perlahan ku hela napas panjang dan meneguk segelas air putih di sampingku. Aku benar-benar melupakannya. Ah sial.


Gadis kecil sore itu,

Terus mengabarimu, merindumu, mengkhawatirkanmu

Menunggu kau membalas pesan singkat atau menelponku

Diperjalanan sepulang pengajian, sebuah note cinta kudapati masuk ke ponselku

aku pikir itu kau?, ternyata salah seorang temanku mengirimkan untukku...

Aku berharap kamu....


Lanjutan bacaan yang ku terima mulai merangsang otakku untuk menemukan siapa gadis itu. Aku mulai overthinking dengan ini dan segera ku ambil diary 6 tahun lalu di kotak berkas. Di halam 28 aku menuliskan :


Dear Another Love.........
Aku merasa sulit kali ini, aku dihantui rasa bersalah. Apakah manusia seburuk aku mampu diterima oleh mereka sebagai kekasihnya?. Bukan bermaksud menduakan tapi aku hanya menyimpan satu tempat terluas disisi yakni dia Siimut yang tak pernah mengeluh karna langit yang jauh, hujan yang jatuh, dan selalu terdiam seperti bulan. Hari ini 18 Mei 2014, Dear Another Love benar aku sangat mencintainya.

Sedikit mengharukan setelah aku baca kembali diary ku 8 tahun silam. dari situ aku tahu siapa yang mengirimkan pesan singkat ke poselku saat aku disini. Gadis yang lucu meski saat itu aku hanya terus mendengar suaranya.


Seakan ini menghujam diriku, mengoyak sanubariku, kini aku cukup dewasa dengan cinta itu. taklagi bergantung dengan penantianku. jelasnya aku masih mengenalmu itu cukup mengobatiku.

Dari Aku 15.


Sebuah skenario yang pernah kubuat dulu kini terulang di masa sekarang, aku mencoba melupakannya sulit dan sangat sulit. Aku hanya terus menjauh pergi dari tempatku berpijak. Sebuah puisi pernah kutulis untuknya saat kuputuskan melangkah menjauh dan terus menjauh. Judul puisi itu adalah Innoncent. Pada bait terakhir kutuliskan...


Sebuah rasa bukan hanya menyakiti tapi ia membelenggu

Membelenggu cita terkadang berakhir duka

Sebuah rasa yang katanya lumrah hingga mengubah kedalam cinta


Aku duduk tertawa dan hanya membaca pesan tersebut. Seusai mendesain aku putuskan tak membalas pesan itu, karena pikirku "Aku akan terus membuatnya merinduku jika kubalas, dan aku akan merasa sakit jika aku kehilangannya". begitulah aku, aku selalu ingin menang ats egoku dan tak ingin mengalah untuk apapun. Jika tentang cinta, saat ini aku cukup kuat menahannya. Kalau tentang duka, itu sudah jadi keseharianku.

Namun keadaannya dari dulu hingga kini sama, aku masih menyimpan dan menyiapkna tempat terluas untuk dia.

Bersemangatlah begitupun aku.

Komentar

Postingan Populer