Pembebasan Pikiran


Pembebasan Pikiran

"Pikiran itu ibarat parasut, ia akan berguna jika terbuka"

(Walt Disney) 

_-_-_-_

Setiap manusia dilahirkan untuk menjadi seseorang yang berguna atau tidak. Setiap orang juga diberi kebebasan berekspresi dan berpendapat. Saat ini kebebasan berpendapat sangat dibatasi di negara ini, setiap warga yang berpendapat frontal terhadap pemerintahan maka akan diberikan punnishment. Oleh sebab itu, kebanyakan dari orang di negara ini menunjukkan pendapat mereka melalui hal kreatif dan menghasilkan, seperti menggunakan syair atau lagu yang bertemakan elegi dan satir. Tapi saat ini sangat sulit ditemui orang yang melakukan pembebasan berpendapat melalui karya-karya yang sangat kreatif namun berunsur elegi atau protes terhadap sistem, pemerintahan, dan orang dinegara ini. Mereka seolah bungkam atau dibungkam oleh statement pemerintah, atau bahkan dijadikan sasaran keegoisan pemerintah. Banyak kisah yang kelam mengenai protes terhadap pemerintah oleh kaum minoritas. Dengan tekanan yang ada di bahu mereka dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah, mereka muncul dengan sendirinya kepermukaan dan membawa asa perubahan untuk negeri ini, namun mereka dibungkam atau dibinasakan.


Bermacam problematika negeri ini dan sejarah gelap tentang pembebasan berpikir dan berpendapat kian menjadi momok menakutkan di pelupuk asa pribumi yang menuntut perubahan. Sesekali ingin melompat dan menjauhi negara ini, sesekali ingin bergerak mengumandangkan kebebasan, sesekali ingin menghentikan ketidakadilan. Di negara ini, dapat dihitung orang yang mampu melakukannya salah satunya Iwan Fals, melalui lagunya ia lantang mengkritisi negeri ini. Adapun lainnya seperti Wijhi Thukul yang mengorasikan pendapatnya melalui lagu dan syair puisi satire. Beragam pendapat dan asumsi yang dikeluarkan olehnya, namun pemerintah pun geram dan melakukan tindakan. Tragedi kelam bangsa ini terbentuk di tahun '98. Seorang warga dibinasakan oleh orang yg menduduki pemerintahan. Satu persatu sang pembebasan pendapat menghilang alhasil negara ini kehabisan amunisi untuk menyerang pemerintahan. 

Ditahun 2021 ini, sang pembebasan semakin tak bermunculan atau bahkan punah. Mereka hanya menuruti emosi dan keinginan pemerintah. Rela bekerja dibawah tekanan, rela bekerja dengan bayaran rendah, rela mengeluarkan tenaga lebih dengan hasil kecil. Setiap sang pembebas muncul kepermukaan pasti akan ditumpas, setiap pendapat yang dikemukakan maka akan dihancurkan, setiap keinginan atas perubahan maka akan dijegal. Hal ini terjadi sepanjang perjalanan untuk mendapatkan hak yang seharusnya. Di era yang berbeda saat ini perbedaan akan ditemukan mana yang apatis terhadap promblema negeri ini, mana yang berjiwa nasionalis dan patriotik atau bahkan kritis. Namun sangat disayangkan, pemikiran beberapa milenial kini sangat sempit bahkan mereka hanya berpikiran pekerjaan lebih penting dari apapun dan untuk urusan pemerintahan ada orang yang mengatur dan mengurusnya. Jauh sebelum itu, seharusnya peran pemuda sangat dibutuhkan untuk memandu perkembangan bangsa kedepannya.

Di kehidupan berbasis teknologi ini semakin membuat pemuda pemudi penerus bangsa semakin lupa dan tak perduli dengan apa yang dilakukan oleh pejabat pemerintah, mereka hanya menurut dan terus menurut. Namun ada juga beberapa yang sangat responsif dan kritis. Namun sayangnya lagi, jawabannya sudah terdengar jelas bahwa ia akan dijegal, dijatuhkan, dan dihancurkan. Di dunia saat ini banyak kekeliruan terhadap apa yang dilakukan oleh pejabat pemerintah dan terkadang tak sesuai dengan kaidah-kaidah pemerintahan. Seharusnya kita tersadar dan mulai berbenah jikalau bukan kita warga negaranya siapa lagi yang akan memperhatikan bangsa ini. Pendapat dan asumsi anda sangat dibutuhkan untuk perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Selain itu, setiap keputusan yang akan diambil selalu memiliki kebaikan dan keburukan. Maka dari itu bersiaplah untuk menghadapi dan menerima semua itu.

Komentar

Postingan Populer