Short Story : Tema Kehidupan

 


My Face 'n My Style


"Bukan manusia yang menetapkan standar dirimu, tapi Tuhan lah yang punya kuasa itu."

_._._._._

Kediri, 12 Januari 2021


Ayah, maafkan aku....
Aku selalu mengecewakan mu
Aku selalu membuat mu marah kepadaku

Ayah, maafkan aku....
Aku sangat berbeza dengan yang lain
Aku sangat tak berharga di mata mereka

Ayah, maafkan aku....
Aku bersalah.

"San, bangunlah cepat dan lekas bersihkan dirimu"
"Ah, entarlah"
"Kau akan menyesal nantinya"

Curhatku,

Dikala itu, aku punya banyak prestasi dan beberapa hal berharga yang tak semua orang memilikinya. Aku berhasil memegang puluhan tanggungjawab dan memenangkan banyak hal yang prestisius. Namun, ternyata di hari itu aku ditolak untuk menuntaskan hal yang cukup menantang buatku. Penolakan ini terjadi hanya karena "aku tak tampan" dibandingkan dengan teman kantorku. 

"Aku tak ingin dirimu, wajahmu tak layak berada dihalaman depan."

Aku hanya menghela napas panjang dan meninggalkan tempat itu. Sembari berpikir dan mengingat kembali perkataan ayahku. Kesedihan menyelimuti hatiku dan suasana kala itu. Namun, dalam sanubari ini berkata-kata seolah ingin menyemangatiku, selalu terdengar di telinga ku "Biarkanlah itu berlalu, kau tak selamanya disini. Buatlah sesuatu yang membuatmu jadi kebanggaan kedua orang tua mu, dibanggakan orang lain, dan dihargai oleh dirimu sendiri." Berulang kali ini terdengar dan memompa semangat hidupku untuk tetap berdiri dan tegar.

Maafkan aku Ibu....
Disekian banyak matahari terbit dan terbenam
Disekian banyak pasang dan surut
Disekian banyak purnama berganti
Disekian banyak kehidupan dan kematian
Disekian banyak pengorbanan dan perjuangan
Aku adalah aku, yang kau kenal sedari kecil dulu
Aku yang selalu mengenakan kaos oblong dan celana tanggung
Aku yang selalu mengedepankan kesederhanaan diatas  kekayaan
Aku yang selalu bersedia mengalah untuk setiap hal yang tak bisa dipaksakan
Aku yang selalu berdiri tegap meski dihujani kebencian dan amarah
Maafkan aku Ibu.....

"Bang, bisa sedikit rapi gak kalo di rumah atau pergi keluar, kamu gak malu sama teman-teman mu yang berpenampilan rapi dan bersih"
Kalimat yang selalu kudengar bila ku di rumah. Ibuku hanya menginginkan aku berubah untuk berpenampilan, bersih dan merawat diri. Itu semua benar dan tak ada salahnya, namun aku tetap bersikeras untuk berpenampilan urakan. Bagiku penampilan ku bukan standar yang bisa diganti oleh siapapun.

"Bu maafkan aku, inilah standar ku"

Ayah dan Ibu, inilah aku dan akan kuciptakan duniaku sendiri dan standar diriku. Hingga membuat bangga dengan setiap keputusan yang kubuat dan kupilih.


Komentar

Postingan Populer